Jakarta (08/04). Pesan kuat tentang pentingnya membangun kualitas umat disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.,yang juga memiliki jabatan strategis di organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam Muhammadiyah sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2022-2027, dalam Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang digelar di Pondok Pesantren Minhajurosyidin, Jakarta Timur, Selasa (7/4/2026).
Dalam forum nasional yang mengusung tema “Mengokohkan Peran LDII dalam Membangun Indonesia yang Berdaulat, Harmonis, dan Berkeadaban untuk Perdamaian Dunia” tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kekuatan umat Islam tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi pada kualitas yang dibangun melalui empat pilar utama.
Ia menyebutkan, pilar pertama adalah Quwwatul Aqidah, yakni kekuatan akidah yang harus menjadi fondasi utama setiap individu. Menurutnya, keimanan yang kokoh akan menjadi arah dan pegangan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Selanjutnya, ia menyoroti pentingnya Quwwatul Saqofah atau kekuatan peradaban. Dalam hal ini, ia menekankan bahwa peradaban yang kuat harus ditopang oleh tiga fondasi utama, yakni ilmu, akhlak, dan seni.
“Ketiganya penting. Tanpa seni, kehidupan bisa terasa kaku,” ujarnya, menegaskan bahwa keseimbangan antara intelektualitas, moralitas, dan estetika menjadi kunci membangun masyarakat yang beradab.
Pilar ketiga yang tak kalah penting adalah Quwwatul Iktisad, yakni kekuatan ekonomi. Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membekali generasi muda dengan ilmu dan keterampilan agar tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemandirian umat di tengah dinamika global.
“Anak-anak kita harus kita berikan bekal untuk mereka ini bisa bekerja, bahkan bisa menciptakan pekerjaan dengan ilmunya, dengan keterampilannya.”imbuhnya
Terakhir, ia menggarisbawahi Quwwatul Jamaah atau kekuatan persatuan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ia mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan potensi untuk saling menguatkan. Dengan jumlah umat Islam yang besar di Indonesia, persatuan menjadi kunci agar dapat terus berkontribusi positif bagi bangsa.
“Dan karena itu maka di tengah perbedaan yang ada kita diingatkan untuk, Yasyuddu ba’dhuhum ba’dha, memperkokoh satu dengan yang lainnya, krena kita itu Qalbunya maka dengan Quwwatul Jamaah insyaallah umat Islam yang berbeda-beda organisasinya akan bisa terus berperan penting untuk menjadikan Indonesia rumah kita bersama ini,” ungkapnya.
Ia pun menutup pesannya dengan harapan agar Indonesia dapat menjadi negeri yang damai dan sejahtera, sebagaimana konsep “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”.
Munas X LDII sendiri berlangsung selama tiga hari, 7–9 April 2026, sebagai ajang konsolidasi organisasi dalam memperkuat kontribusi terhadap pembangunan nasional dan perdamaian dunia. (KIM*)




