Jakarta (28/10). Menyambut Hari Sumpah Pemuda, DPP LDII mendorong generasi muda memperkuat karakter, kompetensi, dan kemandirian ekonomi untuk menghadapi tantangan zaman. Ketua DPP LDII Ibnu Anwarudin mengatakan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat pentingnya persatuan, toleransi, dan kontribusi pemuda bagi pembangunan bangsa.
Ibnu menyebut nilai-nilai Sumpah Pemuda tetap relevan di tengah disrupsi teknologi, arus informasi digital, dan polarisasi sosial. Menurut dia, pemuda perlu membangun fondasi keagamaan, sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan agar mampu bergaul lintas kelompok tanpa kehilangan prinsip hidup.
“Pemuda jangan hanya bangga menjadi bagian dari kelompoknya sendiri. Mereka merupakan bagian dari solusi bangsa, mampu mengelola perbedaan, dan bekerja sama dengan berbagai kalangan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat,” ujar Ibnu.
Ia menjelaskan, kaderisasi pemuda LDII tidak cukup berfokus pada pembinaan internal organisasi. Generasi muda juga perlu memiliki ilmu agama, karakter luhur, keterampilan, kepemimpinan, serta kemandirian ekonomi agar mampu berkiprah di berbagai bidang.
Menurut Ibnu, keberhasilan pembinaan pemuda tidak hanya diukur dari keaktifan berorganisasi. Kader juga perlu menghasilkan karya, mengembangkan kompetensi, dan mengambil peran dalam pendidikan, teknologi, kewirausahaan, ekonomi, hingga pelayanan publik. “Organisasi menjadi ruang belajar dan membangun jejaring. Namun, pemuda tetap harus mengembangkan kemampuan diri, menjaga integritas, dan menunjukkan kontribusi melalui karya serta pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Dalam pembinaan karakter, LDII menanamkan enam tabiat luhur, yaitu rukun, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanah, dan kerja keras. Ibnu menyebut nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berinteraksi di lingkungan masyarakat dan ruang digital.
Koordinator Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK) DPP LDII ini juga mendorong pemuda bersikap kritis, rasional, dan bertanggung jawab sebagai warga negara. Mereka perlu menghormati hukum, memahami persoalan publik, serta menyampaikan pendapat secara santun tanpa merendahkan orang lain.
Perkuat Persatuan di Tengah Ancaman dari Media Sosial
Arus informasi yang cepat menjadi tantangan lain bagi generasi muda. Ibnu mengingatkan pentingnya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkan berita, terutama saat menghadapi isu sensitif yang berpotensi memicu konflik. “Pemuda harus cerdas menggunakan teknologi sekaligus menjaga etika. Perbedaan pendapat tidak harus berujung pada penghinaan atau permusuhan. Periksa informasi sebelum membagikannya dan jangan mudah terprovokasi oleh konten yang memecah belah,” ujarnya.
Menurut dia, penguatan pemahaman agama perlu berjalan bersama kedewasaan berpikir dan pembinaan karakter. Ketiganya menjadi bekal untuk mencegah penyebaran hoaks, intoleransi, dan paham radikal.
Ibnu juga mengajak generasi muda menghormati hak orang lain tanpa harus meninggalkan keyakinan masing-masing. Sikap tersebut perlu diterapkan dalam pergaulan sehari-hari maupun interaksi di media sosial.
Selain karakter dan literasi digital, Ibnu menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi. Pemuda perlu membekali diri dengan keterampilan, literasi digital, kemampuan beradaptasi, dan keberanian membangun usaha.
Ia mengatakan bekerja sebagai karyawan merupakan pilihan yang terhormat. Namun, kemampuan menciptakan usaha dan membuka lapangan kerja juga dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Pemuda perlu belajar membaca peluang, mengembangkan keterampilan, dan membangun usaha dengan integritas. Jangan hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi pelajari juga cara menciptakan peluang kerja bagi orang lain,” kata Ibnu.
Ibnu menambahkan, pembinaan organisasi dapat membantu pemuda mengembangkan kemampuan dan jejaring. Meski demikian, keberhasilan tetap memerlukan kompetensi, disiplin, kerja keras, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan ekonomi.
Ibnu menegaskan pemuda LDII perlu mengambil bagian dalam berbagai ruang pengabdian, mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, ekonomi, kemasyarakatan, hingga pemerintahan. Keterlibatan tersebut tidak harus dimulai dari jabatan besar, tetapi dapat tumbuh melalui kedisiplinan, keteladanan, dan kepedulian terhadap persoalan di lingkungan terdekat. “Kami mendorong kader muda membangun kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat. Pemuda juga perlu berani mengambil tanggung jawab, mengembangkan gagasan, dan terlibat dalam penyelesaian persoalan bersama. Jangan hanya menuntut apa yang diberikan bangsa kepada kita. Tunjukkan pula kontribusi yang bisa kita berikan untuk bangsa. Pengabdian dapat dimulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, lalu berkembang ke ruang publik yang lebih luas,” tegasnya.
Untuk mendukung tujuan tersebut, LDII mendorong pola pembinaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan generasi muda. Pendekatan pembinaan tidak cukup hanya berupa instruksi, tetapi perlu memberi ruang dialog, kreativitas, pengalaman memimpin, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan.
Ibnu menilai kolaborasi antara generasi senior dan junior juga penting. Pengalaman para senior dapat berpadu dengan gagasan dan kemampuan adaptasi generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman. “Metode pembinaan bisa berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Namun, fondasinya tetap karakter luhur, nilai agama, dan tujuan membentuk manusia yang bermanfaat. Pemuda perlu dipercaya untuk berkreasi, belajar mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tugasnya,” pungkasnya. (KIM*)



